Powered By Blogger

Rabu, 7 Disember 2011

Detik-detik Rasulullah SAW Menghadapi Sakaratul Maut.

Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan 
mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan 
khutbah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta 
kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Ku wariskan dua perkara 
pada kalian, Al-Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, 
bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk 
syurga bersama-sama aku." Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan 
mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu 
persatu. 

Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar adanya naik turun 
menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali 
menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah 
tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," keluh hati semua sahabat 
kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di 
dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas 
menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari 
mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti 
akan menahan detik-detik berlalu. 

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang 
di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang 
berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. 
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan 
salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya 
masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan 
badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata 
sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" 
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," 
tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan 
pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah 
anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan 
kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah 
malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. 
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril 
tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya 
sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu 
dunia ini. 
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya 
Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah 
terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar 
menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan 
Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang 
mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana 
nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah 
mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Ku haramkan syurga bagi siapa saja, 
kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril. 

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh 
Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, 
urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." 
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya 
menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau 
melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada 
Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah 
direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah 
memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian 
maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. 
"Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak 
lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera 
mendekatkan telinganya "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku", 
peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." 
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah 
menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke 
bibir Rasulullah yang mulai kebiruan."Ummatii, ummatii, ummatiii?" - 
"Umatku, umatku, umatku" Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi 
sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 
'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada 
kita. 

Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesedaran untuk 
mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. 
Kerana sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin....

Tiada ulasan:

Catat Ulasan